Di rumah yang katanya tempat pulang, ia tumbuh tanpa peluk yang hangat, kata-kata keras jadi teman malam, air mata jatuh tapi tak pernah terlihat. Anak perempuan pertama, katanya harus kuat, tak boleh rapuh, tak boleh mengeluh, tak ada bahu tempat ia bersandar, semua luka ia simpan sendiri, utuh. Di depan orang, ia tetap tertawa, menyembunyikan retak di dalam hati, langkahnya kadang goyah tak berdaya, tapi ia bangkit, memilih berdiri lagi. Ia menatap mimpi jauh di depan, meski jalannya tak pernah mudah, ia ingin hidup dengan penuh kehangatan, membangun rumah yang benar-benar ramah.